Rabu, 10 Maret 2010

Penyerbukan Pada Durian

Yulianus Edo Natalaga; Yogyakarta

Durian (Durio zibethinus Murray) adalah salah satu tanaman buah yang paling populer dan paling penting dari segi ekonomi di Asia Tenggara (Bumrungsri et al., 2009), Dalam genus Durio, hanya durian yang secara luas dibudidayakan sebagai tanaman buah dari spesies Durio lainnya yang lebih banyak dimakan oleh beruang. Meskipun memiliki bau yang menyengat, rasa daging buahnya menarik banyak orang di Asia Tenggara. Bahkan sekarang sudah banyak orang dari daerah Barat yang menyenangi rasa dari durian. Durian telah menjadi buah yang penting dan mulai mendunia (Honso et al. 2004).
Berkembang menjadi buah yang mulai mendunia, permintaan buah durian semakin meningkat dari masa ke masa. Pemanenan secara tradisional sudah tidak mampu lagi, untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin berkembang. Usaha budidaya durian semakin dikembangkan dan mengarah kepada jenis budidaya intensif. Status durian tidak lagi dipandang sebagai salah satu hasil hutan non kayu, tetapi sudah menjadi komoditi perkebunan unggulan. Tetapi sebagai salah satu komponen dari sistem ekologi hutan yang kompleks dan rumit, perkembangan dan produksi buah durian tidak terlepas dari komponen hutan lainnya (Bumrungsri et al. 2009).
                Tulisan ini bertujuan untuk memberi gambaran karakteristik ekologi durian terutama yang berkaitan dengan penyerbukan dan perkembangan buah. Dari ulasan yang ada dalam tulisan ini, dapat menjadi tambahan referensi bagi para petani buah durian untuk untuk diterapkan dengan tujuan meningkatkan produktifitas buah duriannya. Selama ini baru petani di Thailand yang mengembangkan pertanian durian secara serius dan intensif sehingga menjadikan Thailand sebagai produsen utama buah durian (Bumrungsri et al. 2009)
                Dalam tulisan ini akan diulas hal-hal yang mempengaruhi penyerbukan durian hingga dapat menjadi buah yang berkualitas baik. Dalam penyerbukan bunga durian paling tidak terdapat dua faktor yang paling mempengaruhi yaitu pollinator (Yumoto. 2000 dan Bumrungsri et al. 2009) dan waktu penyerbukannya (Honso et al. 2004). Setelah mengalami penyerbukan, bunga akan berkembang menjadi buah, dimana tingkat perkembangan buahnya akan berkorelasi dengan luas penampang tangkai bunga (Ogawa et al. 2006). Diulas pula faktor-faktor yang dapat diatur agar dapat menghasilkan buah yang berkualitas baik (Honso et al. 2004) 
Di Thailand, beberapa varietas dari D. zibethynus dibudidayakan dalam skala komersial, yang menggunakan hasil perbanyakan dari bagian vegetatif dari varietas terpilih untuk melestarikan karakter induknya. Para petanipun sudah menerapkan penyerbukan buatan dengan bantuan tangan pada varietas-varietas unggul yang bernilai komersil tinggi (Bumrungsri et al. 2008).
Di alam, varietas-varietas durian tanpa nama yang tumbuh setengah liar yaitu durian yang tumbuh dari benih dan diketahui tidak dikelola secara intensif, yang ditanam di selatan Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Hutan hujan tropis dataran rendah merupakan habitat utamanya, meskipun masih dapat ditemui pada daerah dataran tinggi. Pada habitat aslinya yang diamati pada durian setengah liar maupun liar, durian bersama tanaman petai (Parkia speciosa Hassk.) adalah jenis-jenis tanaman kanopi puncak ketika jenis-jenis duku (Lansium domesticum Corr.), manggis (Garcinia mangostana L.), pisang (Musa spp.) dan jahe-jahean mengisi relung-relung di bawahnya (Bumrungsri et al. 2008).
Keanekaragaman genetis dari durian dicerminkan dengan keragaman rasa dan karakter daging buahnya. Terdapat perberdaan karakter dari pohon-pohon durian yang dibudidayakan dengan pohon-pohon durian yang ada di alam. Durian budidaya memiliki karakter tajuk yang rendah dan rindang. Sedangkan durian-durian di alam  memiliki pohon yang besar dan ketahanan terhadap serangan hama dan jamur yang lebih baik dari pada varietas-varietas komersil yang ada. Oleh karena itu jenis-jenis ini biasanya digunakan sebagai cadangan batang bawah dan cadangan untuk bahan persilangan (Bumrungsri et al. 2008).
Pohon-pohon durian setengah liar maupun liar mulai berbunga pada umur 8 (delapan) tahun, dan bunganya dapat ditemui di cabang-cabang yang tua. Durian-durian ini memiliki periode berbunga yang singkat dimana memerlukan periode tiap tiga tahun. Tumbuhan ini utamanya berbunga pada pertengahan Maret hingga akhir April (Bumrungsri et al. 2008).
Meskipun karakteristik pembungaan tumbuhan durian di alam memiliki banyak persamaan dengan tumbuhan durian yang dibudidayakan secara komersial, beberapa aspek dilaporkan memiliki pengaruh nyata terhadap ekologi penyerbukannya, yang berbeda pada tiap varietasnya. Ekologi penyerbukan alami dari durian terutama dipengaruhi oleh keberadaan dari agen penyerbuknya (Yumoto. 2000).
Pada beberapa penelitian didapat bahwa pada jenis-jenis durian varietas komersil seperti varietas mon thong, chanee, kradum thong, dan phaung manee, akan lebih produktif bila ada bantuan pada proses penyerbukannya. Varietas-varietas ini menunjukkan produktifitas yang signifikan lebih rendah bila proses penyerbukannya di biarkan (open pollination) dibandingkan bila penyerbukannya dibantu oleh manusia secara silang (artificial cross-pollination) (Honso et al. 2004).
Pertumbuhan buluh serbuk sari terjadi ketika serbuk sari melekat kuat pada kepala putik, dan hal tersebut lebih sulit terjadi bila penyerbukannya berjalan secara alami. Hal ini disebabkan oleh terjadinya ketidakcocokan dari serbuk sari ketika buluh serbuk sari mencapai bakal buah (ovule). Oleh karena itu penyerbukan durian sangat memerlukan pertolongan dari agen penyerbuk, termasuk manusia. Dari beberapa pengamatan dan penelitian, diketahui bahwa penyerbukan silang buatan yang paling baik ialah menggunakan durian kradum thong sebagai asal serbuk sari (Honso et al, 2004).
Dari bunga durian ini dapat juga dilihat tingkat pertumbuhan buah durian yang dihasilkan. Luas penampang melintang dari tangkai bunga berhubungan secara alometrik dengan tingkat pertumbuhan buah. Hal ini akan sangat berguna bagi para pembudidaya tanaman durian untuk tujuan komersil untuk menyeleksi bunga yang akan dibantu penyerbukannya. Kegiatan penyerbukan buatan pada tumbuhan durian memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang tidak kecil (Ogawa et al. 2006).
Waktu efektif penyerbukan bunga durian berlangsung dalam periode antara 6 jam sebelum hingga 12 jam setelah mekar. Hal ini diperkuat dalam penelitian yang dilakukan oleh Honso dkk. (2007) yang meneliti tentang waktu efektif penyerbukan (efective pollination period : EPP).  Dalam penelitian tersebut didapat pula bahwa EPP dipengaruhi oleh tiga parameter reproduksi pohon, yaitu tingkat penerimaan putik, pergerakan buluh serbuk sari, dan umur bakal buah (ovule).
Penyerbukan yang lewat dari EPP akan menghasilkan buah-buah inferior yang dalam perkembangannya akan jatuh lebih cepat sebelum berkembang sempurna. Di sisi lain buah yang baik lebih banyak dihasilkan dari penyerbukan yang terjadi pada beberapa jam sebelum mekar, karena bunga sudah dalam keadaan siap untuk diserbuki (Yumoto. 2000).
Di sisi lain, pada varietas-varietas durian yang semi liar dan liar di alam dalam proses penyerbukannya tumbuhan durian sangat dibantu oleh binatang, terutama mamalia bersayap yaitu kelelawar. Hal ini dibuktikan dari percobaan yang dilakukan Bumrungsri dkk. pada tahun 2008, yang mendapatkan bahwa dari lima model penyerbukan yang diamati hanya tiga yang efektif, yaitu penyerbukan yang terbuka, penyerbukan dengan tangan, dan penyerbukan dengan cara pengebirian. Pada model penyerbukan terbuka dan dengan cara pengebirian, agen penyerbukan ialah kelelawar buah dari jenis Eonycteris spelacea. Kelelawar buah yang datang ke bunga durian merupakan agen penyerbuk yang paling efektif, meskipun kedatangan kelelawar bersifat sporadis. Kelelawar terutama tertarik untuk datang pada tumbuhan durian yang berbunga secara serentak. Oleh karena itu kelelawar buah merupakan agen penyerbuk utama dari tumbuhan durian (Bumrungsri et al. 2008).
Selain kelelawar buah, durian juga memiliki agen penyerbuk lain. Pada beberapa jenis durian alam, penyerbukan juga terjadi secara efektif oleh bantuan burung. Jenis-jenis burung yang berperan sebagai agen penyerbuk meliputi jenis-jenis pemakan serangga (nectariniidae). Selain burung, diamati pula agen penyerbuk yang lain yaitu lebah madu raksasa (Yumoto. 2000).
Jenis-jenis durian yang penyerbukannya dibantu oleh burung (ornithophily) dan serangga (chiropterophily) memiliki karakter yang berbeda. Bunga durian yang masuk kategori ornithophilus memiliki warna yang menarik, aroma yang tidak terlalu kuat, dasar bunga yang dalam, dan waktu mekar di siang hari. Sedangkan bunga yang masuk dalam kategori bunga durian yang kripterophilus adalah bunga yang berwarna kekrem-kreman atau cenderung putih, aroma yang kuat, dan bidang bunga yang lebar atau dasar bunga yang dangkal. Sedangkan bunga durian yang menarik keduanya biasanya memiliki perpaduan dari kedua sifat di atas (Yumoto. 2000).
Oleh karena keberhasilan peneyerbukan durian tergantung pada keberadaan agen-agen penyerbuknya, tindakan untuk melindungi populasi kelelawar buah, burung pemakan serangga, dan lebah madu raksasa perlu dilakukan, terutama pada jenis-jenis yang menghisap nektar bunga. Hal ini merupakan langkah strategis untuk mengamankan masa depan dari tumbuhan durian, terutama untuk membantu melestarikan keragaman varietas dari durian (Bumrungsri et al. 2008).
Dari ulasan diatas, pertama dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi dari budidaya durian dapat dicapai dengan meningkatkan tingkat keberhasilan penyerbukan dari durian. Keberhasilan penyerbukan dari durian dipengaruhi oleh tiga hal penting yaitu: (1) Durian memiliki EPP dalam rentang waktu 6 jam sebelum hingga 12 jam setelah mekar. (2) Tiap varietas durian memiliki karakter serbuk sari yang berbeda, yang menyebabkan variasi pada tingkat keberhasilan dan karakter buah yang dihasillkan. (3) Luas penampang tangkai bunga sangat berhubungan dengan tingkat pertumbuhan buah durian. Hal ini sangat berguna untuk menfisienkan penyerbukan buatan.
Dengan meningkatnya intensifitas budidaya varietas komersial dari durian, keberadaan dari varietas-varietas liar dan setengah liar tetap sangat penting. Keberadaan varietas-varietas ini terutama karena memiliki karakter yang berbeda dengan varietas komersial terutama pada kemampuan bertahan dari serangan hama dan jamur, keragaman rasa dan karakter pohon. Keragaman genetis dari varian durian liar dan setengah liar ini merupakan sumber dari pengembangan varian-varian baru dari durian.
Keberlangsungan dari varian-varian durian liar dan setengah di hutan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan penyerbukannya yang dibantu oleh kelelawar, burung, dan lebah. Oleh karena itu pelestarian varian durian sangat tergantung pada pelestarian agen-agen penyerbuknya.

Sumber:
Bumrungsri, S., E. Sripaoraya, T. Chongsiri, K. Sridith, PA. Racey, 2009. The Pollination Ecology Of Durian (Durio zibethinus, Bombacaceae) In Southern Thailand. Journal Of Tropical Ecology. 25, 85 – 92.
Honso, C., K. Yonemori, S.  Somri, S. Subhadrabandhu, A. Sugiura, 2004. Marked Improvement Of Fruit Set In Thai Durian by Artificial Cross-Pollination, Scientia Horticulturae. 101, 399 – 406.
Honso, C., S. Somsri, T.  Tetsumura, K.  Yamashita, K. Yonemori, 2007. Effective Pollination Period in Durian (Durio zibethinus Murr.) And The Factors Regulating It, Scienta Horticulturae. 111, 193 – 196.
Ogawa, K., AM. Abdullah, M. Awang, A.  Furukawa, 2006. Relationship Between Fruit Growth And Peduncle Cross-Sectional Area In Durian (Durio zibethinus Murray). Ecological Modelling. 200(1-2), 254 – 258.
Yumoto, T., 2000. Bird-Pollination Of Three Durio Species (Bombacacea) In A Tropical Rainforest In Sarawak, Malaysia. American Journal of Botany. 87(8), 1181 - 1188

Link:
1. Journal Of Tropical Ecology, Cambridge Online Journal
2. Scientia Horticulturae, Science Direct

1 komentar:

  1. yani.dipi@gmail.com12 Maret 2013 02.59

    tulisan anda sangat menarik,seba gai seorang awam pecinta durian sangat beruntung mendapat pelajaran yang berharga dari tulisan anda, semoga lebih banyak lagi tulisan2 anda dapat diamalkan dan berguna bagi sesama, salam hangat.

    BalasHapus